Revolusi Mental Bukanlah Angan – Angan

Revolusi Mental Bukanlah Angan – Angan

1140
0
BAGIKAN

Revolusi Mental yang digagas oleh Presiden Jokowi, secara ide bagus. Tapi publik mempertanyakan implementasinya seperti apa? Apakah revolusi mental ini sama dengan revolusi-revolusi beberapa negara besar di Eropa dan Asia, pada awal abad 20?

Kita terlalu suka dengan anganangan besar, tapi kerjanya ala kadar saja. Nuansa sinistik ini pernah menjadi ranah serius dalam polemik kebudayaan yang dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Polemik yang bermula dari tulisan Sutan Takdir Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru: Indonesia- Pra-Indonesia (Pujangga baru, 2 Agustus 1935). Takdir mengidamkan lahirnya zaman Indonesia Baru, yang bukan sekali-kali dianggapnya sebagai sambungan dari generasi Mataram, Minangkabau atau Melayu, Banjarmasin atau Sunda. Ia berhaqul yakin, jika Indonesia mau maju, harus berpaling ke Barat. Takdir sepertinya, terinspirasi kuat pada retorasi Meiji, di Jepang.

11Tapi bagi Sanusi Pane dan Poerbatjaraka, berubah itu bukan semata soal paling memalingkan diri. Dalam tulisannya yang berjudul Persatuan Indonesia (Suara Umum, 4 September 1935), Sanusi Pane menegaskan: “Zaman sekarang ialah terusan zaman dahulu….” Dalam polemik itu, Takdir dinilai Pane terlalu mabuk kebarat-baratan. Polemik lalu bergulir panjang. Kaya pemikiran dan terus terang dahsyat daya kritisnya. Tapi tahukah pembaca, harapan apa yang ada di balik polemik itu? Tak lain, sebuah harapan untuk berubah. Menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang diperhitungan di setiap konstelasi zaman.

Sayang, polemik berbobot ini, berhenti di atas pikiran dan kertas koran. Padahal mereka yang berpolemik, sesungguhnya bersepakat untuk memikirkan perubahan bangsa ini, supaya sejalan dengan mentalited bangsa modern. Kalau pakai bahasa Jokowi, mesti lanjut sampai bermuara ke revolusi mental, begitulah. Gagasan ini – seperti juga banyak gagasan brilyan lain yang menghendaki perubahan mentalited bangsa — lalu senyap menjadi angan angan belaka. Tak ada kerja berarti yang membuat pikiran itu teraktualisir menjadi sebuah gerakan yang sanggup mengubah mentalited bangsa. Yang tersisa hanya keprihatinan dan keberkutatan pikiran segelintir elit yang mendambakan Indonesia Berubah.

12Kini, setelah reformasi — yang sesungguhnya mendambakan perubahan — berjalan 18 tahunan, gagasan kritis berkait urusan mentalited kembali digelindingkan. Tak kurang dari – ketika itu masih calon — Presiden Jokowi yang melontarkannya – menjadikannya sebagai tekad. Ketika gagasan ini dituangkan dalam artikel kompas, muncul sejumlah penanggap dan pendukung gagasan ini. Maklum ide ini digelontorkan waktu kampanye Presiden. Tapi setelah itu yang ada hanya diam. Ide Revolusi mental seperti wujud angan angan. Tak ada iktiar yang berarti. Bahkan banyak yang mengatakan konsepsi revolusi mental seperti deretan keinginan saja.

Chaerul Slamet, Kandidat Doktor Institut Seni Indonesia Yogyakarta, menyadari bahwa revolusi mental itu mulia. “Tapi dia tak akan menjadi apa-apa jika sebatas melayang dalam angan. Pembentukan mental itu bukan soal sederhana, sungguh kompleks. Jadi harus diseriusi programnya dan melibatkan multi aspek kehidupan.” Kata Chaerul.

1
2
3
4
BAGIKAN

BELUM ADA KOMENTAR

Berikan Komentar Anda