Sekilas Cerita Pengrajin Minatur Rumah Gadang di Solsel

Sekilas Cerita Pengrajin Minatur Rumah Gadang di Solsel

470
0
BAGIKAN

Dari Limbah Jadi Berkah

Gerak-an.com, Solok Selatan – Kerajinan tangan dari limbah barang bekas buatan pemuda asal Nagari Surian, Kabupaten Solok, Sumatera Barat ini, perlahan sudah mulai dikenal baik di daerah Sumatera Barat maupun Nasional. Bahkan sudah ada pembeli hasil karya tangannya itu dari luar negeri. Bagaimana tidak, bulan agustus lalu, ia bersama komunitasnya yaitu Komunitas Seni Rumah Karya Solok Selatan, baru saja memenangkan juara 1 tingkat provinsi lomba handycraft souvenir ikon Kabupaten Solok Selatan dengan inovasi pemanfaatan bahan dari limbah.

Andika Alfa, pria yang akrab dipanggil Dika, sudah menggeluti dunia seni sejak dari bangku kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang. Kerajinan tangan andalan dan yang banyak diminati oleh wisatawan ataupun penikmat seni yaitu miniatur rumah gadang dan souvenir relief kaleng.
“Hasil karya miniatur rumah gadang dan relief kaleng sebagian besar bahannya dari limbah yang biasanya dibuang. Seperti kaleng bekas minuman, batok kelapa, sisa kayu bekas, dan pelepah pisang. Benda yang tak berharga itu jadi lebih berharga, dari limbah jadi berkah,” ujar pria kelahiran 12 September 1987.img-20161217-wa0006

Ia pun menjelaskan alasan mengapa rumah gadang yang dibuat menjadi kerajinan tangannya.
“Kenapa saya membuat rumah gadang?karena ikon solok selatan yaitu seribu rumah gadang. Seperti di bukittinggi, ikonnya yaitu jam gadang sehingga souvenirnya jam gadang. Tapi untuk kedepannya saya dan komunitas masih menelaah untuk mendapatkan souvenir yang benar-benar berciri khas dari kabupaten ini” katanya.

Satu buah miniatur rumah gadang, terbuat dari bahan-bahan seperti pelepah pisang, kaleng bekas, kayu bekas dan karton jerami. Membuat tiga buah miniatur rumah gadang berukuran kecil membutuhkan waktu 1 hari. Sedangkan untuk membuat 1 miniatur ukuran besar, bisa menghabiskan waktu 1 minggu.
“Semua pengerjaan masih saya lakukan secara manual menggunakan gergaji scroll manual, belum dengan mesin scroll serta kompresor”, kata pria yang masih berstatus lajang ini.

Untuk miniatur rumah gadang, dia sudah membuat bermacam macam ukuran dari yang kecil hingga yang besar berikut lengkap dengan “rangkiang” dan tamannya. Harga jualnya pun bervariasi, tergantung ukuran dan tingkat kesulitannya, mulai dari Rp. 40.000 sampai dengan Rp. 1.500.000.
“Tetapi, yang paling laku miniatur rumah gadang ukuran kecil karena bisa dijadikan sebagai oleh-oleh souvenir dan mudah dibawa-bawa”, ujar pria yang masih lajang ini.

Sedangkan untuk souvenir relief kaleng katanya, dibuat dari kaleng bekas minuman yang dibakar dengan kompor agar berubah warna menjadi kuning. Setelah itu, dengan kelihaian jari jemarinya dan tentunya menggunakan jiwa seni yang tinggi, kaleng tersebut diukir menggunakan pena bekas tak bertinta agar menghasilkan sebuah gambar relief karya seni indah bercitra rasa tinggi yang dapat memanjakan mata para calon pembeli maupun penikmat seni.
“Souvenir relief kaleng ini juga dibuat dari limbah. Bingkainya bisa dari tempurung Kelapa atau triplek. Harga jual ada yang Rp. 75.000 sampai Rp. 150.000, tergantung kesulitannya dan harga beda jika ada pesanan khusus seperti menggunakan kotak untuk tempatnya”, jelasnya.img-20161217-wa0001_1481947849421

Usaha kerajinan tangan yang ia geluti ini masih belum maksimal dan belum sesuai dengan harapan. Dalam perjalanannya masih banyak hambatan atau kendala yang dihadapinya. Pangsa pasar dan peralatan yang belum memadai masih menjadi kendala baginya. Namun, saat ini upaya memperkenalkan karyanya telah dilakukan melalui event-event pameran dan menjualnya di kawasan seribu rumah gadang.
“Kerjainan saya masih belum berbentuk home industry. Saat ini karya seni yg saya buat masih tergantung order yang diminta pembeli. Segi pemasaran dan peralatan yang belum memadai juga masih menjadi kendala bagi saya. Sehingga saya sering menolak permintaan dalam jumlah besar lantaran alat produksi yang kurang memadai”, jelasnya.

Ia menjelaskan masih belum berani meminjam modal ke Bank untuk membeli peralatan seperti mesin scroll dan kompresor untuk memenuhi permintaan dalam jumlah besar karena saat ini dirinya belum dapat mememukan pangsa pasar yang jelas dan juga masih dalam proses pembelajaran.
“Idealnya, saya memiliki mesin scroll dan kompresor agar setidaknya proses produksi lebih cepat dan banyak. Saya berharap Pemda dapat berkontribusi membantu menyediakan peralatan karena kerajinan tangan ini dapat dijadikan penunjang pengembangan pariwisata yang saat ini sedang digembor-gemborkan oleh Pemda Solok Selatan”, jelasnya.img-20161217-wa0002_1481947889679

Saat ditanya mengenai penghasilannya, pemuda ini hanya bisa tersenyum dan sedikit bingung.”Pendapatan perbulan berapa ya? Saya juga tidak tahu.hehehe.. Pendapat saya musiman kalau ada pameran dan sesuai orderan saja, malah kadang satu bulan tidak ada sama sekali”, ucapnya sambil sedikit tertawa.

Sementara, Wakil Ketua Komunitas Seni Rumah Karya Solok Selatan (RKSS), Aig Wadenko, menjelasakan bahwa Andika merupakan pengrajin multitalenta yang dimiliki RKSS.
“Si Andika ini, apapun semua yang berhubungan dengan seni rupa, mulai dari bahan logam, kayu, karet, kaca, semuanya bisa dia ubah menjadi karya seni tinggi yang sama sekali tidak pernah terfikir orang lain sebelumnya”, katanya saat ditemui gerak-an.com.

Selain itu ia menjelaskan, Komunitas Seni Rumah Karya ini merupakan wadah gabungan dari berbagai macam seni yang saat ini terdiri dari 15 anggota.
“RKSS merupakan suatu wadah dan forum yang di dalamnya terdapat berbagai macam seni, ada seni lukis, seni rupa, seni lukis, fotografi, tari, musik, patung, dan lainnya. Di sini lah kita para penggiat seni dapat berdiskusi, bertukar pikiran serta mengembangkan seni itu sendiri”, jelasnya.img-20161217-wa0000

Upaya-upaya juga telah dilakukan oleh RKSS dalam mengembangkan produk-produk karya seni anggotanya dan juga agar dapat menjangkau pangsa pasar yang lebih luas yaitu dengan mengikuti pameran-pameran baik tingkat provinsi, nasional, maupun internasional, serta berafiliasi keanggotaan dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Deskranasda) dan Komunikasi Ekonomi Kreatif.
“Saat ini strategi pemasaran kami yaitu  memasarkan produk di kawasan seribu rumah gadang dan mini market-mini market, mengikuti pameran-pameran, kompetisi, serta kenggotaan di Deskranasda dan Komunikasi Ekonomi Kreatif. Saat ini juga kami sedang menjajaki kerjasama dengan operator tour and travel yang membawa wisatawan di Sumbar untuk dimasukkan souvenir dalam paket wisatanya” jelasnya.

Dijelaskannya, bahwa pariwisata dan ekonomi kreatif merupakan potensi di Solok Selatan yang dapat berkembang kedepannya. Dirinya berharap agar Pemda melalui Dinas terkait dapat memberikan pembinaan dan pengembangan secara berkesinambungan, jangan hanya diberi apresiasi dan dijanjikan ini itu, tapi tidak pernah jadi kenyataan.
“Kita telah memasukkan proposal bantuan ke Pemda, kemudian legalitas organisasi jelas sudah kita sesuaikan, ya hanya habis disitu. Sementara, jika ada lomba atau pemeran, kita di cari dan diminta untuk mewakili nama Solsel, setelah itu selesai, sudah, kita hidup lagi seperti biasanya”, katanya.

Saat ini sebutnya, kontribusi Pemda baru sebatas mengikutkan ke kompetisi atau pemeran-pameran.
“Ada juga, pernah ditawarkan bantuan pemasaran oleh Diskoperindag Solsel, namun harga tidak sesuai dengan tenaga kita, kita butuh hidup, bagaimana kita kerja kalau tidak makan”, cetusnya. (RH)

BELUM ADA KOMENTAR

Berikan Komentar Anda