“Spirit Bakudapa Di Negeri Aboru”

“Spirit Bakudapa Di Negeri Aboru”

324
0
BAGIKAN
Spirit Bakudapa Di Negeri Aboru

“Spirit Bakudapa Di Negeri Aboru”

Maluku tidak akan pernah kehilangan nuansa eksotisme dan keberagaman suku, ras dan budaya serta kekayaan sumber daya alamnya. Salah satunya adalah Negeri Aboru, kali ini penulis akan membahas banyak kelebihan yang dimiliki oleh pulau Haruku ini. Sejak dulu, Maluku adalah negeri yang kaya baik di darat maupun di laut. Sejak ratusan tahun yang lalu Maluku dikenal sebagai penghasil cengkeh dan pala. Laut Maluku penuh dengan beribu biota laut yaitu ikan yang berlimpah ruah.  Negeri   ini   menyimpan   potensi  alam   yang melimpah   dan   potensi   wisata   yang   indah.   Negeri   Aboru   kaya   akan   batuan   yang mengandung emas dan kuningan, serta juga batuan yang mengandung nikel. Potensi wisata negeri Aboru adalah laut dan pantainya yang indah. Namun, selama ini Aboru dikenal sebagai salah satu basisnya RMS (Republik Maluku Selatan) di Maluku. Negeri   ini   selalu   menjadi   buah   bibir.   Negeri   Aboru   semakin   di   kenal   saat sekelompok   pemudanya   berhasil   menyusup   sebagai   penari   cakalele   dan   hendak membentangkan bendera RMS di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat menghadiri perayaan Harganas tanggal 29 Juni 2007 di Lapangan Merdeka, Ambon. Banyak cerita negatif tentang orang Aboru. Mereka dikenal sebagai orang yang skeptis terhadap pendatang, seringkali tidak mengenal kompromi dan nekat melakukan apa saja.

pombi

Stigma RMS di Aboru

Sebagaimana kita tau, peristiwa aksi unjuk rasa aktivis gerakan Rakyat Maluku Selatan (RMS) pada Peringatan Hari Keluarga Nasional XIV di Lapangan Merdeka, pada 29 Juni 2007 nyaris dilupakan orang. Insiden tersebut sempat menghebohkan publik di tanah air karena pelaku menggelar aksinya dalam suatu acara yang dihadiri Presiden SBY. Para pelaku kemudian ditangkap dan diproses secara hukum. Salah satu nama adalah John Teterisa, yakni salah seorang pelaku yang saat itu membawa bendera RMS dihukum penjara selama 15 tahun dan harus mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Nusakambangan. Namun, yang menarik perhatian adalah kembalinya rasa kebangsaan John Teterisa terhadap publik tapi dengan cerita yang berbeda. Pemuda asal Desa Aboru, Pulau Haruku, Maluku Tengah itu berpartisipasi aktif ikut merayakan HUT RI ke-71 yang lalu. Pria yang akrab dengan panggilan Jonte ini ikut ambil bagian dalam pertandingan tradisional terompah panjang dan menyayikan lagu ‘Hari Merdeka’ secara serentak. Tidak hanya itu, Jonte didaulat menjadi dirigen bagi ratusan warga binaan LP Nusakambangan.

c7366268-ff00-4e8a-88be-6e1d1dc5ba64

Stigma ‘RMS’ melekat pada Desa Aboru. Selama ini, Desa Aboru  kurang mendapat perhatian dari pemerintah, kini berbanding terbalik dengan sebelumnya. Desa Aboru kini dikenal dengan desa yang damai penuh dengan kemajuan-kemajuan dari masayrakat Aboru, bahkan anak cucu dari warga Desa Aboru difasilitasi oleh Kodam Pattimura untuk dapat mendaftarkan diri menjadi anggota TNI. Hal tersebut tentu menjadi sebuah prestasi tertentu bagi masyarakat Aboru yang kini stigma akan RMS sudah hilang. Pada tahun ini tiga putra asal Pulau Haruku diberi kesempatan bergabung menjadi anggota TNI. Ini untuk pertama kalinya ada warga Desa Aboru menjadi anggota TNI sejak tahun 1999. Karena sebelumnya, anak-anak muda Haruku lebih tertarik menjadi partisipan RMS. Adapun pembangunan untuk wilayah ini, seperti pelayanan kesehatan, dermaga, dan sekolah boleh dikatakan sangat minim. Namun saat ini, Desa Aboru mendapat perhatian khusus. Berbagai kegiatan dilakukan pemerintah daerah bersama-sama dengan instansi terkait, di antaranya pengobatan, bantuan bibit ikan, keramba, memberi bubu (perangkap ikan). Pulau Haruku juga menyimpan sejuta pesona kekayaan alam seperti sasi lompa, yakni tradisi yang sudah dijalankan sejak tahun 1600-an. Adapun fasilitas pendukung masyarakat pulau haruku maupu negeri aboru seperti pelabuhan Tulehu yang saat ini kondisinya telah semakin membaik berkat kerjasama masyarakat dan pemerintah daerah untuk sam-sama membangun negeri aboru. Masyarakat desa Aboru semakin menyadari bahwa selama ini banyak hal-hal yang tidak perlu dilakukan semestinya, karena pada dasarnya pemerintah meyakini masyarakat Aboru sendiri tetap menghargai keberagaman yang ada.

23

Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71 benar –benar dirasakan betul oleh masyarakat Pulau Haruku yang diantaranya saat itu hadir secara khusus dalam perayaan HUT RI, yakni Menteri BUMN Rini Soemarno yang memberikan bantuan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) Bank Mandiri kepada masyarakat di Pulau Haruku dalam menunjang pembangunan sarana MCK dan air bersih di Desa Kailolo, Pelauw, Naira, dan Aboru. Masyarakat Negeri/Desa Aboru menyampaikan terima kasih kepada pemerintah daerah maupun pemerintah pusat karena banyak hal yang telah dilakukan sehingga secara perlahan membuka keterisolasian di negeri. Pendekatan kesejahteraan yang dilakukan pemerintah daerah bekerja sama dengan instansi terkait nyatanya telah memberikan dampak positif sekaligus merubah keterisolasian Desa Aboru yang notabenya dinilai merupakan basis bagi RMS. Senajata-senjata ilegal yang dimiliki oleh warga merupakan sisa-sisa konflik dahulu antara Maluku dan Maluku Utara, termasuk di Ambon. Banyak warga merasa takut sehingga perlu memiliki senjata untuk perlindungan diri.

Hal tersebut diatas telah menunjukan bahwa saat ini masayarakat Pulau Haruku sudah merubah nasibnya sendiri dengan membuka diri bersama-sama dengan pemerintah daerah untuk memajukan wilayah di Pulau Haruku agar kesejahteraan masyarakat di Pulau haruku dan masa depan anak cucu warga masyarakat Pulau Haruku utamanya masyarakat Desa Aboru dapat tercapai lebih baik kedepannya, seperti apa yang telah dicapai oleh beberapa putra-putri terbaik dai Desa Aboru. Maluku tanpa Aboru bukanlah Nusantara. Kita semua perlu menjaga kelestarian dan kearifan lokal yang ada dalam setiap langkah untuk memajukan Desa Aboru kedepannya.

BAGIKAN

BELUM ADA KOMENTAR

Berikan Komentar Anda