“PEDAGANG KECIL HANCUR DI TANGAN “PENGUASA” PULAU SERIBU MOKO”

“PEDAGANG KECIL HANCUR DI TANGAN “PENGUASA” PULAU SERIBU MOKO”

175
0
BAGIKAN

Gerak-an.com, Alor. Pasar menjadi tempat berjalannya kegiatan atau aktivitas perekonomian seperti produksi, konsumsi maupun distribusi selaian itu juga menjadi tempat berkumpulnya manusia untuk mencari kebutuhan. Tak kalah pentingnya disini, pasar menjadi sentral perekonomian rumah tangga masyarakat daerah dan Negara, sarana pembangunan nasional dan peningkatan pemasukan Negara maka tidak bisa dipungkiri perkembangan perekonomian suatu bangsa di tentukan juga oleh pasar dari tingkat kesejahteran masyarakat dan pelaku pasar.

Buruh, petani ladang dan Nelayan merupakan perkerjaan unggulan dan terbesar bagi masyatakat kecil di pulau seribu moko untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup seperti makan sehari-hari dan juga menyekolakan anak. Ini berarti pasar adalah satu-satunya solusi yang mampu menciptakan kesejahtraan hidup masyarakat di Pulau Seribu Moko lewat profesi mereka yang adalah Buruh, petani dan Nalayan sebagai tempat berjualan dan ikut meningkatkan roda perekonomian.

Namun nyata nya Pemerintah sebagai Pemangku kepentingan hari ini sangat tidak punya kepedulian terhadap fondasi perekonomian pasar dengan melihat amburadul tata kelola pasar dan belum menyediakan tempat berjualan yang layak seperti pasar yang manusiawi bagi masyarakat  (Pedagang lokal) di pulau seribu moko. Motivasi dan Perilaku (Behavior) yang tidak mendidik jika para pedagang lokal di Pulau ini harus di gusur terus sana sini oleh Pemerintah lantas, dimana tanggung jawab Pemerintah yang di pilih rakyat setiap lima tahun sekali untuk mensejahterakan rakyat.

Tidak ada desain perekonomian kaitan penataan pasar yang sistimatis dan terukur, pasar-pasar tradisional yang tersebar tidak diurus kemudahan transpotasi dan distribusi, tengkulak dan pemodal kulit putih yang terus menggurita dan pemasaran antar pulau tidak diatur dengan regulasi yang memproteksi pedagang buruh, petani dan nelayan. Yang paling memalukan adalah pusat aktivitas pasar di pulau ini gagal total dengan penataaan dua bangunan bantuan anggaran pusat yang nyaris gagal dan para pedagang diusir sana sini keliaran berjualan di jantung kota yang berdampak kumuh dan kocar kacir dikejar aparat Satpol PP alasan penertiban.

Pasar juga miliki fungsi sangat urgen sama halnya dengan tempat-tempat lain seperti taman kota/taman rekreasi sebagai tempat hiburan. Lantas mana yang akan diprioritaskan Pemerintah untuk rakyat sebagai kebutuhan pokok mereka, “Taman kota atau Pasar…….?” Pedang pasar keleleran berjualan dengan memanfaatkam ruang2 kosong di tengah kota kian terusik. Terbesar di Pantai reklamasi Dulionong mau diusir lagi alasan pembangunan taman kota. Ini mencermikan bahwa arogansi kekuasaan pimpinan besar Orang Nomor Satu di pulau seribu moko sangat sadis dan tidak manusiawi.

Jika Pemerintah hari ini lebih memproritaskan “Taman Kota” dibanding “Pasar” lalu mengusur rakyat (pedagang Lokal) tanpa arah yang jelas maka ini suatu kegagalan yang akbar telah dilakukan Pemerintah sebagai pemangku kepentingan hari ini sebab belum hampir bisa melihat yang menjadi kebutuhan dasar dan kebutuhan ikutan masyarakat.(*)

ditulis oleh: Erson Atamau

(Sekretaris Umum KEMAHNURI)

BAGIKAN

BELUM ADA KOMENTAR

Berikan Komentar Anda