Malu Dong Festival “Sampah”

Malu Dong Festival “Sampah”

143
0
BAGIKAN

Gerak-an.com, Bali – Bali merupakan destinasi pariwisata dunia, namun kepedulian masyarakat setempat terhadap sampah sekitar masih kurang terbukti masih banyak sampah yang tidak dibuang pada tempatnya apalagi memilahnya. Hal tersebut membuat para seniman, musisi, pelajar, pemerhati lingkungan dan para pemuda bergabung dalam Malu Dong Festival yang akan diselenggarakan tanggal 22 – 23 April 2017 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar yang dipublikasikan dalam Konferensi Pers di Ayucious Resto and Lounge Jalan Tantular Nomor 7 Renon Denpasar pada Kamis (13/4/2017).

Bali Indie Movement, Marlowe mengatakan bahwa acara yang akan diselenggarakan dalam menangani permasalahan sampah dan merupakan media yang paling mumpuni untuk sosialisai ramah lingkungan. Acara ini dikelola secara independen dan tidak ada kepentingan politik.

Lanjutnya, gambar dari poster acara tersebut sempat menimbulkan sedikit kontroversial ketika akan di publikasikan. Namun, cover dalam poster Malu Dong Festival yang dibuat oleh seniman Heru Suscarya merupakan karya dimana memberikan pesan menutup ikon-ikon bangunan lokal dan internasional dengan sampah bahwasanya karena perilaku yang tidak peduli sampah maka kelak akan menutup keindahan wilayah tersebut dan membawa ancaman bencana.

“Dana dari festival bersumber dari pelelangan karya, sumbangan pribadi, pembuatan kupon bazar, dan publikasi di sosial media,” ungkap Marlowe.

Bali Indie Movement Hendra menyampaikan bahwa ada sekitar 40 komunitas yang tergabung dalam festival tersebut.

Selama ini edukasi tentang sampah terbatas dalam dunia pendidikan, masih minim edukasi dalam bentuk yang berbeda.

“Kita terbiasa edukasi tentang penanganan sampah di dunia pendidikan, namun itu hanya standar, sedangkan kami membuat media yang disukai oleh kaum banyak dimana program tersebut ada 4 kompetisi yang dilombakan yaitu: pembuatan lampion, pembuatan video grafi, lubang fotografi, dan lomba karikatur. Dewan juri akan closing dalam pemberian hadiah pada hari kedua. Dalam festival ada keterlibatan seniman dan musisi diantaranya Wayan Suja, Made Budiana, Dodid Artawa, Parahita,” papar Hendra.

Kemudian Hendra juga mengungkapkan bahwa dalam festival adanya tour pengunjung dan dibantu sekitar 100 orang volunteer untuk running tour dari pukul 10.00-17.00 Wita untuk melihat rantai sampah dari bagaimana sampah itu dikoleksi sampai dengan proses produksi dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

“Di festival ini kami sebelumnya menghimbau bahwa pengunjung tidak membawa botol minuman plastik komersil dan stand makanan juga tidak menggunakan kemasan plastik sekali pakai, dan memberlakukan no smoking area karena menghormati Perda Pemprov Bali dilarang merokok di kawasan Lapangan Puputan, tetapi kami menyediakan lokasi untuk merokok khusus,” pungkas Hendra. (NN)

BAGIKAN

BELUM ADA KOMENTAR

Berikan Komentar Anda