300 Kg Daging Celeng Disita Polres Bogor

300 Kg Daging Celeng Disita Polres Bogor

116
0
BAGIKAN

Gerak-an.com, Bogor – Sebanyak 300 kilogram daging babi hutan atau celeng disita Satuan Reskrim Polres Bogor.‎

Daging celeng sebanyak itu dikirim ke Bogor untuk bahan pembuatan bakso.‎

Pengungkapan pengiriman daging celeng ini merupakan pengembangan dari penangkapan enam orang pelaku yang ditangkap sebelumnya.‎

Kapolres Bogor, AKBP Andi M Dicky menjelaskan, daging celeng yang saat ini menjadi barang bukti itu diamankan dari tangan DM dan AG saat akan melakukan pengiriman ke Bogor.‎

“Daging babi hutan ini dikirim dari sumatera untuk dioplos dengan daging ayam sebagai bahan pembuatan baso,” terangnya di Mapolres Bogor, (30/5).

Menurutnya, lemak daging celeng berbeda dengan daging sapi lantaran warnanya agak sedikit pucat.‎

Tak hanya itu, Polres Bogor juga mengamankan adonan baso yang berbahan daging celeng yang sudah bercampur daging ayam untuk dijadikan barang bukti.‎

Daging giling yang sudah dioplos itu dijual seharga Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu per kilogramnya.‎

“Mereka menjual khusus untuk pedagang baso, karena daging oplosan itu lebih murah,” tandasnya.‎
Diberitakan sebelumnya, penjual daging oplosan untuk bahan pembuatan cilok dan baso diringkus polisi.‎

Menurut Kasat Reskrim Polres Bogor, AKP Bimantoro Kurniawan, ada tujuh pelaku yang diamankan. ‎‎
PN (43), AI (35), UJ (24), IM (30), MA (31), dan seorang pembeli HS (38) yang diamankan di ruko Pasar Citeureup, Kabupaten Bogor pada Minggu (28/5/2017).‎

Menurutnya, pelaku telah mencampur daging ayam dengan daging celeng.‎

Daging oplosan itu kemudian dijual untuk bahan pembuatan cilok dan baso.‎

“Saat ini masih dalam pemeriksaan untuk menentukan tersangkanya,” ujarnya.‎

Saat ditangkap, polisi menemukan daging babi hutan seberat 46 kilogram, daging ayam seberat 60 Kilogram, serta daging ayam yang sudah dicampur daging babi seberat 4 kilogram.‎

Satu unit penggilingan daging kasar, 1 unit penggilingan daging halus dan 1 buah frezer ikut dibawa ke Mapolres Bogor untuk dijadikan barang bukti.‎

Sementara itu, Bupati Bogor Nurhayanti menginstruksikan agar seluruh camat di Kabupaten Bogor lebih sering turun ke pasar saat bulan puasa ini.‎

“Camat di masing-masing wilayah harus melakukan pengawasan langsung ke pasar tradisional, untuk mengantisipasi kenaikan harga sembako,” ujar Nurhayanti usai melakukan pertemuan dengan para pimpinan Muspida di Pendopo Cibinong.‎

Saat turun ke pasar, para camat juga harus bekerjasama dengan Disperindag dan PD Pasar ketika melakukan pengawasan harga.‎

“Disperindag dan PD. Pasar juga tidak boleh diam, apalagi belakangan ini ada temuan seperti makanan kadaluwarsa dan daging celeng oplosan di pasaran,” tegasnya.‎

Hal itu dilakukan agar masyarakat yang berbelanja di pasar tradisional tidak dibayangi rasa kekhawatiran dengan bahan pokok yang dibelinya.‎

“Saya ingin masyarakat itu bisa nyaman saat belanja di pasar tradisional, terutama saat membeli kebutuhan pokok,” katanya. (SH)

BAGIKAN

BELUM ADA KOMENTAR

Berikan Komentar Anda