BAGIKAN

Gerak-an.com, Maluku — 

Suasana menjelang Natal dan Tahun Baru 2018 sudah mulai terasa, masyarakat yang beragama Nasrani sudah mulai mempersiapkan perayaan Natal 2017 yang tinggal menghitung hari. Keingginan semua orang agar suasana Natal 2017 dan Tahun Baru berjalan aman dan lancar tanpa ada gejolak keamanan. Untuk menjaga suasana tetap kondusif, p[emerintah mulai melakukan antisipasi di berbagai bidang salah satunya adalah mengantisipasi terjadinya potensi konflik yang akan terjadi di masyarakat. Salah satu wilayah yang masuk dalam pengawasan pemerintah adalah Maluku, karena pengalaman buruk konflik bernuansa SARA 1999 dikhawatirkan masih berdampak pada saat ini. Irjen. Pol. Drs. Deden Juhara (Kapolda Maluku) mengatakan momen menjelang natal dan tahun baru sangat berpotensi menimbulkan berbagai gangguan keamanan yang dimanfaatkan baik oleh orang atau kelompok-kelompok kepentingan. Kerawanan lain yang menjadi perhatian adalah perayaan natal dan tahun baru yaitu mengkonsumsi minuman keras dan pesta kembang api. Kondisi masyarakat Maluku yang beragam dapat menimbulkan masalah yang berpotensi memicu konflik berkepanjangan sama halnya dengan konflik pada tahun 1999.

Mengingat delapan belas tahun lalu, Maluku menjadi saksi sejarah adanya konflik yang tidak dapat dilupakan oleh masyarakat. Masyarakat Islam dan Kristen yang mulanya hidup dengan damai pada satu wilayah berubah secara drastis karena adanya konflik. Gesekan kecil di masyarakat tersebut mengakibatkan kerusuhan yang tak terelakkan, pembakaran kendaraan, rumah warga, bahkan masjid dan gereja menjadi sasaran amukan sekelompok massa. 150 rumah dibakar dan dirusak, banyak warga yang meninggal karena tidak dapat menyelamatkan diri dari rumah yang terbakar. Isu konflik antar agama tersebut semakin berkembang dan dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk mempertajam sentimen agama. Konflik tersebut mengubah kondisi struktur masyarakat yang tersegregasi antarsatu agama dengan agama lain sehingga dapat dikelompokkan sebagai dusun Islam atau dusun Kristen/Katolik. Seiring berjalannya waktu, kondisi masyarakat kini mulai menggeliat dan berjalan normal kembali. Usaha-usaha kecil menengah mulai kembali berkembang, kondisi perekonomian perlahan namun pasti mulai merangkak naik, begitu juga dengan kondisi masyarakat antaragama yang mulai berinteraksi dan melakukan aktivitas seperti biasa meskipun luka lama tetap teringat hingga kini.

Kenangan buruk konflik masalalu masyarakat Maluku ini berpotensi dimanfaatkan oleh beberapa kelompok kepentingan yang ingin mengganggu stabilitas keamanan menjelang natal dan tahun baru. Berdasarkan data penduduk Maluku menganut 3 agama yaitu penduduk beragama Islam sebanyak 50,61%, penduduk Kristen sebanyak 41,40%, dan penduduk Katolik sebanyak 6,76%. Dengan jumlah penduduk Islam dan Nasrani yang seimbang berpeluang untuk terjadinya gesekan di masyarakat karena tidak adanya kelompok minoritas atau mayoritas dalam satu wilayah. Konflik juga dapat disebabkan oleh perbedaan budaya antar umat beragama di Maluku dimana momen natal merupakan momen yang sering dirayakan oleh umat Nasrani dengan mengonsumsi minuman keras dan melakukan konvoi kendaraan bermotor. Ribuan warga tumpah ruah ke jalan-jalan utama di Ambon untuk merayakan sukacita dan kegembiraan Natal dengan menyalakan kembang api dan petasan.

Dengan adanya sejarah konflik masalalu, momen Natal merupakan momen yang sering dijadikan pemicu oleh kelompok-kelompok kepentingan untuk menimbulkan sentimen agama kembali. Kelompok-kelompok Islam garis keras (igaras) ataupun kelompok separatis berpotensi mengancam dengan mengembangkan isu-isu konflik antaragama dan memunculkan kembali kenangan buruk konflik Ambon 1999.

Untuk meminimalisir potensi ancaman aparat keamanan telah melakukan pengamanan menjelang perayaan natal dan tahun baru, Polres Pulau Ambon dan Polres Pulau Lease telah mendirikan pos-pos pelayanan di titik lokasi keramaian, bandara internasional Pattimura Ambon, pelabuhan Yos Sudarso, dan terminal angkutan umum. Selain Polres Ambon dan Lease, TNI dan pemuda juga dilibatkan dalam pengamanan perayaan natal di gereja, juga beberapa damkar telah disiapkan di instansi-instansi penting. Pengamanan ini perlu melibatkan banyak pihak baik aparat keamanan, tokoh adat, dan tokoh pemuda Maluku untuk mencegah timbulnya gesekan di masyarakat yang dapat berakibat pada konflik berkepanjangan.

Konflik dapat dicegah dengan adanya keterlibatan peran-peran penting dalam masyarakat untuk menjaga keberagaman baik dalam budaya maupun dalam kehidupan beragama. Kenangan buruk masalalu tidak perlu lagi terulang hanya untuk menyenangkan kelompok-kelompok kepentingan pemecah persatuan bangsa. Tidak hanya Maluku, masyarakat Indonesia perlu menjaga hubungan antara umat beragama dengan tidak menyebarkan kebencian yang dapat menghidupkan kembali sentimen agama yang memcah belah bangsa. (sa)

BAGIKAN

BELUM ADA KOMENTAR

Berikan Komentar Anda