Ikatan Alumni Widyswara Solok Selatan Gelar Dialog Dengan Aparatur Pemerintah

Ikatan Alumni Widyswara Solok Selatan Gelar Dialog Dengan Aparatur Pemerintah

293
3
BAGIKAN

Gerakan.com, Solok Selatan – Mencegah dini konflik sosial di Kabupaten Solok Selatan (Solsel), Ikatan Alumni Widyaswara Indonesia (IAWI) gelar dialog terbuka di Aula Kampus tersebut di Muaralabuh, Selasa (28/8).

Dialog kebangsaan yang bertajuk “Sinergitas Aparatur Pemerintah, Masyarakat dan Mahasiswa dalam mengantisipasi potensi konflik” Di daerah itu digelar atas dasar kepedulian terhadap perkembangan situasional bangsa yang kian tak kondusif.

“Meredam konflik merupakan tugas semua pihak. Berawal dari bentuk kepedulian terhadap masalah sosial yang berpotensi terjadi di Solok Selatan dan juga dalam rangka menghidupkan kembali suasana di Kampus, kami dari IAWI kemudian menggelar kegiatan dialog kebangsaan ini,” kata Ketua IAWI, Syaiful Amri.

Dialog tersebut melibatkan semua unsur lembaga, mulai dari aparat kepolisian, TNI, Pejabat Pemerintah Kabupaten Solok Selatan, sejumlah organisasi masyarakat (Ormas) serta tokoh masyarakat setempat. Termasuk melibatkan kalangan generasi muda daerah itu.

Syaiful menilai, peran serta generasi muda untuk menjaga keutuhan bangsa memang sesuatu yang vital saat ini. Selain itu, sikap saling menghargai perbedaan dan toleransi antar sesama suatu hal yang juga bakal memperkokoh persatuan.

“Sebagai generasi muda, perlu untuk mengetahui cara menghindari potensi konflik sosial di masyarakat. Tentunya, melalui berbagai pendekatan sehingga persatuan bangsa dapat terus dijaga,” sebutnya.

Lalu tambah Syaiful, generasi muda juga memiliki peran sentral dalam memberikan masukan dan kontribusi nyata dalam mencegah konflik sosial. Di antara dengan menjaga sikap toleran dan menghargai perbedaan.

Sementara itu, Kabag Ops. Polres Solok Selatan, Kompol Benu Alam yang juga turut menghadiri kegiatan itu mengatakan, Solok Selatan memiliki masyarakat yang heterogen. Hidup dalam percampuran budaya sejak dulunya.

Namun demikian katanya, masyarakat tetap memperlihatkan bahwa selama ini bisa hidup berdampingan dalam kemajemukan itu. “Ini artinya, rasa saling menghargai dan menghormati itu telah terawat di Solok Selatan sejak dulu. Tentu diharapkan, generasi sekarang juga bisa demikian,” ujarnya.

Mengatasi konflik lanjut Benu Alam, tidak harus dengan bentrok dan kekuatan fisik, namun bisa dilakukan dengan musyawarah. Sebagaimana sejumlah perkara yang terjadi di Solok Selatan, yang lantas ditangani pihaknya lewat Focus Group Discussio (FGD).

“Segala persoalan itu, sejatinya bisa diselesaikan dengan damai. Berunding dan berdiskusi, musyawarah dan mufakat. Jika ini diterapkan, artinya potensi konflik bisa diredam,” ujarnya.

Ditambahkan, Kepala Seksi Hubungan Antar Lembaga dan Demokrat, Kesbangpol Solok Selatan, Irman, Indonesia saat ini tengah dihadapkan pada situasional bangsa yang gaduh. Volume saling hujat antar saudara terjadi di berbagai tempat. Terlebih, di Indonesia memasuki masa Pemilu, baik Pilpres dan Pileg.

“Kondisi saling hujat, saling mendeskreditkan kelompok tertentu antara sesama yang dipertontonkan saat ini, kita harap tidak berpengaruh bagi masyarakat kita di Solok Selatan. Kemudian masyarakat kita harap juga bijak menelaah informasi, terutama yang mengancam persatuan,” ujarnya.

Sementara itu, Akademisi/Direktur STIE Widyaswara Indonesia, Dr Syamsurizaldi, mengapresiasi atas adanya kegiatan dialog itu karena momentnga sangat tepat dengan akan diadakannya kegiatan Pileg dan Pilpres 2019.

“Hal ini dapat juga dijadikan sebagai sarana dalam menambah pengetahuan dan pendidikan politik untuk masyarakat dan mahasiswa,” katanya.

Dijelaskannya, Konflik sosial adalah proses sosial dimana individu atau kelompok berusaha mendapatkan apa yang diinginkan dengan cara yang berlawanan atau mungkin dengan cara kekerasan.

Terdapat tiga penyebab konflik menurut Syamsurizaldi, yaitu konflik idelogi, konflik struktural dan konflik budaya. Sedangkan bentuk konflik katanya, terbagi dua yakni konflik vertikal dan konflik horizontal.

“Apapun bentuk dan jenis konflik yang ada itu, kita berharap tak satupun yang mendera masyarakat Solok Selatan. Dan menjadi tugas kita bersama dalam menghindari dan meredamnya,” tutupnya. (RH)

BAGIKAN

3 KOMENTAR

  1. Dengan adanya seminar yg dilakuakn ikatan alumni widyaswara indonesia, dapat berpengaruh positif terhadap pengantisipasi akan terjadinya konflik sosial di solok selatan, terutama kembali mengharumkan citra kampus widyaswara indonesia kembali terutama di kabupaten solok selatan.

Berikan Komentar Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.