Hari Santri Nasional menjadi titik refleksi kekuatan transformatif santri

Hari Santri Nasional menjadi titik refleksi kekuatan transformatif santri

32
0
BAGIKAN

Serang Banten – Hari Santri Nasional menjadi titik refleksi kekuatan transformatif yang harus dimiliki setiap santri. Peringatan  ini membuktikan bahwa seorang santri telah mampu mengembangkan diri lebih baik ditengah perkembangan zaman yang semakin lama semakin maju.

Hal tersebut dikatakan Komisioner Bawaslu Provinsi Banten, Sam’ani saat mengikuti dialog penyambutan Hari Santri di Perangko Cafe Kota Serang Banten dengan  tema “Refleksi Jelang Hari Santri: Do’a Untuk Indonesia Terus Maju” Jumat 28/9.

Sam’ani mengatakan Pesantren saat ini dituntut harus dapat mengikuti perkembangan globalisasi selain mempertahankan ajaran Islam. Selain itu, ketika lulus para santri dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman saat ini.

Ditengah era globalisasi, generasi milenial menjadi dominan dalam peran pembangunan Indonesia di masa depan. Santri bukannlah sebuah status, namun merupakan predikat melekat yang juga berperan penting bagi pembangunan ucap Komisioner Bawaslu Provinsi Banten. Sementara Ditengah era milenial, santri ditantang untuk memberikan karya dan peran untuk membantu membangun Indonesia menjadi lebih baik.

Hal senada juga diungkapkan  Pengasuh Ponpes El-Falah, Pondok Petir Serang, Banten, A. Yury Alam Fathallah, “Santri saat ini dituntut mampu bersaing dalam era revolusi industri 4.0 “. Santri mengenal teknologi sebagai barang mahal, karena mereka belum mengerti. Teknologi adalah barang murah ketika para santri mampu memahami seluk beluk teknologi. Sistem ini harus berlaku di pondok pesantren, karena teknologi berdampak positif bagi pembangunan kualitas sumber daya manusia para santri.

Yurry mengingatkan saat ini lawan utama para santri adalah diri sendiri. Kini banyak informasi-informasi tersebar yang telah membuat nama baik santri menjadi negatif, diantaranya isu radikalisme. Isu tersebut bahkan menjadikan stereotype bahkan santri erat dengan ajaran radikal. Ketakutan tersebut bahkan membuat para santri paranoid dengan kehadiran Polisi disekitarnya, karena takut diduga bagian dari kelompok radikal.

Keterbukaan informasi melalui internet menjadi tantangan bagi santri  saat ini untuk menambah ilmu dan wawasan agar terhindar dari informasi benuansa negatif maupun berita hoax, kata Yurry.

 

(SM)

 

BELUM ADA KOMENTAR

Berikan Komentar Anda